|

UWGM Samarinda Selenggarakan FGD Penguatan Perguruan Tinggi Swasta Berdaya dan Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045

Samarinda Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Penguatan Perguruan Tinggi Swasta yang Berdaya dan Berdampak melalui Implementasi Permendiktisaintek Nomor 40 Tahun 2025 Menuju Indonesia Emas 2045” pada Jumat, 19 Juni 2026, bertempat di Ruang Serbaguna Lantai 1 Gedung C UWGM Samarinda.

Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat pemahaman sivitas akademika terhadap arah kebijakan pembangunan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi sebagaimana tertuang dalam Permendiktisaintek Nomor 40 Tahun 2025. Selain itu, FGD juga menjadi ruang dialog antara pemerintah, asosiasi perguruan tinggi, dan akademisi dalam merumuskan langkah-langkah transformasi perguruan tinggi agar mampu memberikan kontribusi yang lebih luas bagi pembangunan nasional dan daerah.

FGD dihadiri oleh pimpinan perguruan tinggi, dosen, peneliti serta unsur sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Timur. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak.

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda, Prof. Dr. Husaini Usman, M.Pd., M.T. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga mampu menghadirkan solusi melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta inovasi yang dapat memberikan manfaat nyata bagi pembangunan.

Kegiatan ini juga memperoleh dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui sambutan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.Eng. Beliau menyampaikan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan pendidikan tinggi memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat peningkatan mutu pendidikan tinggi sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan nasional.

FGD menghadirkan tiga narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam pengembangan pendidikan tinggi, yaitu Prof. Dr. Ir. H.M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I. selaku Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Prof. Dr. Mukhamad Najib, S.TP., M.M. selaku Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Dr. Arbain, S.Pd., M.Pd. yang membawakan materi mengenai transformasi publikasi ilmiah di Indonesia.

Transformasi Perguruan Tinggi Berbasis Dampak

Sesi pertama menghadirkan Prof. Dr. Ir. H.M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I. yang memaparkan materi mengenai terbitnya Permendiktisaintek Nomor 40 Tahun 2025 menjadi tonggak penting dalam transformasi pendidikan tinggi Indonesia. Regulasi tersebut tidak hanya mengatur aspek administratif penyelenggaraan perguruan tinggi, tetapi juga mengarahkan seluruh institusi pendidikan tinggi untuk berorientasi pada penciptaan dampak nyata bagi masyarakat. Perguruan tinggi dituntut menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan zaman, mengembangkan riset yang relevan dengan kebutuhan bangsa, serta memperkuat pengabdian kepada masyarakat melalui inovasi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Beliau menggambarkan tahapan transformasi perguruan tinggi yang dimulai dari Teaching University, berkembang menjadi Research University, kemudian Entrepreneurial University, hingga mencapai Transformative University. Pada tahap akhir tersebut, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari prestasi akademik maupun jumlah penelitian, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan perubahan sosial, mendukung pembangunan berkelanjutan, serta menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.

Penguatan Kelembagaan Menuju Perguruan Tinggi Berdaya Saing

Materi berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Muhkammad Najib, S.TP., M.M., Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Beliau menguraikan kondisi pendidikan tinggi Indonesia sekaligus berbagai tantangan yang masih perlu dihadapi, mulai dari pemerataan akses pendidikan tinggi, peningkatan kualitas institusi, hingga pengembangan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat global.

Menurut beliau, transformasi pendidikan tinggi harus diarahkan pada peningkatan kualitas lulusan, penguatan riset dan inovasi, serta tata kelola kelembagaan yang transparan dan akuntabel. Perguruan tinggi juga didorong membangun kolaborasi yang lebih erat dengan pemerintah, industri, dan masyarakat sehingga hasil pendidikan dan penelitian benar-benar menjawab kebutuhan pembangunan nasional.

Beliau menambahkan bahwa keberhasilan perguruan tinggi pada masa mendatang tidak hanya ditentukan oleh reputasi akademik, tetapi juga oleh kontribusinya dalam menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan.

Publikasi Ilmiah sebagai Instrumen Pembangunan

Pada sesi ketiga, Dr. Arbain, S.Pd., M.Pd. menyampaikan materi mengenai transformasi publikasi ilmiah Indonesia dalam kerangka implementasi Permendiktisaintek Nomor 40 Tahun 2025. Beliau menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah telah menggeser orientasi publikasi ilmiah dari sekadar mengejar jumlah artikel menuju peningkatan kualitas dan dampak hasil penelitian.

Publikasi ilmiah dipandang sebagai instrumen strategis untuk memperkuat daya saing bangsa melalui hilirisasi hasil riset, penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy), serta pengembangan inovasi yang dapat diterapkan oleh masyarakat maupun dunia industri. Dengan demikian, keberhasilan penelitian tidak lagi hanya diukur dari jumlah publikasi atau indeksasi jurnal, tetapi juga dari sejauh mana hasil penelitian mampu memberikan manfaat nyata.

Selain itu, beliau menekankan pentingnya membangun budaya integritas akademik melalui pencegahan praktik publikasi pada jurnal predator, penolakan terhadap jasa penulisan ilmiah (joki), pengawasan terhadap manipulasi sitasi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) secara etis dan bertanggung jawab. Penguatan integritas tersebut menjadi fondasi dalam meningkatkan kredibilitas publikasi ilmiah Indonesia di tingkat internasional.

Melalui forum ini, para undangan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai arah kebijakan pendidikan tinggi nasional sekaligus berbagai strategi implementasinya di tingkat institusi. Diskusi juga menghasilkan kesamaan pandangan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan tinggi memerlukan kolaborasi lintas sektor, penguatan tata kelola kelembagaan, serta komitmen seluruh sivitas akademika dalam menghasilkan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi ilmiah yang berkualitas.

Sebagai penutup, kegiatan FGD ini diharapkan menjadi momentum bagi perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi swasta, untuk mempercepat transformasi kelembagaan sesuai arah kebijakan nasional. Melalui penguatan kualitas akademik, pengembangan riset yang berdampak, peningkatan integritas ilmiah, serta perluasan jejaring kemitraan, perguruan tinggi diharapkan mampu berkontribusi lebih besar dalam mewujudkan pendidikan tinggi Indonesia yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045.

Sumber:

Sistem Informasi LPPM UWGM